popular entri

Selasa, 07 Mei 2013

Itu kamu…


anyeong!! ini cerita gua yang ke 3~ ini fiksi yaa ga real kok cuman orang sama sifatnya aja yang asli ^^v


Aku melrik cowok jangkung berandal yang sedang duduk sebangku denganku ini.Sekarang dia  tertidur pulas sehabis melakukan kebiasaannya yang sudah merupakan rutinitas bersama teman-teman sesama berandalnya, apalagi kalau bukan membuat kerusuhan di kelas. Astagaa , apa dia tidak memikirkan Pak.Ridwan  akan menggantungnya di tiang bendera? Ckckckck… aku menggelengkan kepala..
Bel telah berbunyi. Aku kembali melirik cowok ini, lalu menyenggol lengannya serta menyodorkan buku catatanku ke arahnya.
“Ini, Catat yang ketinggalan. Besok ada ulangan,” kataku singkat karena aku sudah tau dan hapal akan reaksinya lalu berbalik ke kantin.
Pada pelajaran Fisika, kami ditugaskan oleh Pak Budi untuk menjawab 50 soal tentang Listrik statis, listrik dinamis, induksi elektromagnetik dan tata surya secara berkelompok. Dan, masalahnya kami ditugaskan berkelompok dangan teman sebangku. Hanya ada 2 anggota tiap kelompok. Beruntung banget si Fatima ini, ia sebangku dengan Desya, pakar Fisika sekaligus pengganti Einstein. Sedangkan aku? Hellooo… aku sebangku dengan Angga Fadila Putra, dan aku yakin ia sangat cuek bahkan malas atau lebih tepatnya TIDAK PEDULI dengan tugas ini, sehingga kemungkinan besar aku harus menjawab soal-soal ini SENDIRIAN! Hah, haruskah aku meminjam otak Desya untuk menjawabnya?
Perlahan ku coba untuk berbicara kepadanya seramah sekali lagi SERAMAH mungkin.
Angga, dimana kita mau mengerjakannya?” tanyaku menoleh ke arahnya dan memberikannya sedikit senyum. Kenapa sedikit? Karena mungkin ia tak akan menghargai itu. Ia hanya meliriku dingin. Lihat kan?
“Terserah,” jawabnya ketus. Ya, ya, aku sudah tahu kalau dia tidak niat sama sekali. Kurasa saatnya untuk sedikit lebih keras terhadapnya.
kalau begitu. Aku tunggu kau di taman dekat persimpangan jalan sekolah ini. Bila kau tak datang, terpaksa aku mencoret namamu karena yang kerja cuma aku,”
“Kapan?”
“Jam 5 sore ini,” dan selesai aku berkata, ia langsung pergi. Kemana? Ke kantin. Sudah rutinitasnya dan aku sebagai teman sebangkunya hapal akan kebiasaannya. Aku menunggunya sambil duduk di kursi panjang yang ada di taman itu. Sudah 15 menit. Berlalu Baiklah, kalau sampai ia 15 menit lagi ia tak datang, namanya akan kucoret dengan senang hati. Kenapa? Karena selama menunggunya aku sudah mengerjakan 35 soal! Hebat kan aku ini.
Setelah 5 menit menunggu lagi, akhirnya aku menemukan angga melangkah mendekat, namun ada yang aneh. Ia berjalan dengan pelan. Bingung, heran dan penasaran, aku menghampirinya. Mataku memlotot maksimal ketika melihatnya secara keseluruhan. Sudut bibirnya terluka, lebam menghiasi setiap lekuk wajahnya yang harus kuakui memang tampan serta pelipisnya mulai membiru.
“Astagaa, ayo ikut aku,” kataku dan langsung memapahnya menuju rumahku yang memang ada di seberang taman. Ia hanya menurut. Setelah mendudukkannya di sofa, aku langsung mengambil sebaskom air, handuk kecil dan kotak P3K. Ia terus memandang lurus ke depan, menghiraukanku yang mulai beraksi dengan kapas dan alcohol. Sesekali ia meringis kesakitam ketika aku mengompres lebamnya. Karena ia tak kunjung bicara, kutekan luka di pipinya dengan handuk yang kupegang.
Aduh!!katanya lalu melotot ke arahku.
DEG!!!
Aku terpaku menatap mata besar itu. “Ya! Kau melakukan apa hah?” kataku spontan. Ia hanya menatapku tanpa ekspresi. “Kau berantem lagi? Ckckck..” kataku lagi sambil berusaha berkonsentrasi pada lebam di wajahnya. “Kenapa sih melakukan hal tak berguna seperti itu? Itu sangat seperti anak kecil,” omelku pelan sambil membereskan kotak P3K dan beranjak menaruhnya kembali di lemari. Aku menyambar buku Biologi dan pena, lalu kembali duduk di sofa.
apa yang kau lakukan?” tanyanya heran menatapku. Apakah ia sudah amnesia?
“Ya! Kita janjian untuk mengerjakan tugas Fisika bodoh!” seruku padanya. “Ini, aku sudah mengerjakan setengah lebih karena menunggumu,” lanjutku. Ia menghembuskan napas pasrah dan membuka buku itu. Aku terus memandangnya yang sedang menulis.
“Kenapa terus memandangku?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku tugas. Aku tersentak, lamunanku hancur seketika.
Tidak, aku memikirkan sekuat apa orang itu memukulmu, hingga lebammu sampai sangat biru seperti itu,” jawabku asal. Ia memandangku tajam.
“Kau meremehkanku?” katanya mendekat.
engga kok enggaaa…”
“Huh?” wajahnya mulai mendekati wajahku sambil melotot .
Iya iyaa !! Maaf!!” kataku keras dan ia kembali ke posisi semula.
Tak terasa sudah menginjak tahun terakhir di SMP yadika 6 ini. Karena kedekatanku dengannya yang terbilang ‘aneh’ banyak orang menyangka kami saudara, bahkan ada yang mengira kami berpacaran. Tapi karena kedekatanku itulah, aku sudah bisa merubahnya menjadi lebih baik, walaupun dinginnya sih sama. Tapi karena itu juga, ia jadi popular sekarang. Banyaaaaaaakk adek kelas yang tergila-gila padanya. Coba kalau mereka tahu seperti apa ia dulu, mungkin mereka akan mengelus dada.
Aku dengan susah payah  membawa box besar berisi, surat, kartu, coklat, dan banyak hal lagi yang tak terhitung banyaknya bagai bintang di langit utnuk Angga. Kenapa aku harus membawanya? Karena dia bilang itu tugasku sebagai asistennya. WHAT THE HELL????
BRAK!!
“Ya! Apa lagi yang harus kukerjakan hah?” kataku kesal sambil membanting box itu di hadapan angga yang sedang duduk di depanku. Lokasi kami sekarang sedang ada di atap sekolah. Ia tersenyum kecil.
Makasiih..”
Terima kasih  saja tidak cukup. Aku minta kau jelaskan tentang gosip itu,” kataku sambil duduk di sebelahnya.
apa?” baiklah, kebiasaannya malas ngomong masih ia bawa sampai sekarang. Aku memutar kedua bola mataku kesal. dih, dia pura-pura tak tahu.
Gosip bahwa kau sedang menyukai seseorang itu!!” kataku menjitak pelan kepalanya.
Aduh, iya, itu benar,” katanya sambil mengelus kepalanya.
“Ya! Ya! Ya! benarkah?? Waaahh.. aku ketinggalan,” tak bisa kupungkiri bahwa aku sangat penasaran dengan perempuan itu. Aku memandang box itu. Di dalamnya, ada sepucuk surat dariku. Hahaha, aku memang menyukainya sejak 2 tahun lalu. Namun sepertinya perasaan itu harus kukubur dalam-dalam. Aku rasa cintaku bertepuk sebelah tangan. Kasian banget diriku ini. “siapa?” tanyaku hati-hati.
kenapa? Kau takut tersaingi?” apaa?? Apa-apaan itu??
“Tersaingi?? enggaaa, kalau kau menyukai perempuan yang salah aku bisa memperbaiki,” kataku spontan. Ia hanya tertawa.
Tiba-tiba tangannya terulur mengambil salah satu benda di dalam box itu. JA… JANGAN!! Biasanya aku yang membacakan!! Lagipula bagaimana kalau ia membaca suratku? Yaaahhh.. walalupun aku tak menuliskan namaku BAHKAN aku mengetikanya dengan computer, tetap saja! Dan sekarang tangannya meraih sebuah amplop putih. Ya! Itu milikku! Tapi aku tetap diam. Sekarang ia mulai membacanya.
Apa?? Ketik computer? Tanpa nama? Ya! Kau tahu siapa pengirimnya?” tanyanya tiba-tiba padaku. Aku hanya menggeleng.
tidak. Itu sudah ada begitu saja di situ,” syukurlah.. lebih baik ia tak tahu. Lalu ia mulai senyum-senyum sendiri membaca surat itu. Apanya yang lucu hah? “Yaa!! Apa kau sudah gila?? Kenapa kau senyum-senyum??”
Tidak, hanya saja penulisnya bodoh sekali,”
APA??? Ya! Jangan meremehkan tulisan! Itu perasaan tau! Nulis juga pake mikir!” seruku.
“Maksudku bukan itu,” katanya menenangkan. “Hanya saja tulisannya polos sekali, lihat, ‘kau memang menyebalkan, tetapi kenapa ya aku menyukaimu?’” Oh, teruslah tertawa angga fadila, lama-lama kucekek juga lehermu.
“Memang bodoh, hahaha… anak yang polos,” kataku meledek diriku sendiri. “Ya!! Jangan mengalihkan topik pembicaraan!!”
iya?”
siapa? Perempuan yang kau sukaitu!!! !! Lelet sekali sih kau ini!!”
“Pengen tau banget sih?”
“Ya jelas lah. Aku sahabatmu. Dan, aku harus tahu duluan!”
Kenapa?”
“Karena aku sahabatmu!”
Dih, sahabat,”
“Lhoo… memangkan??” pekikku pelan. “ beritahu aku siapa perempuan sial itu, hehehe…”
“Haissh, kau benar-benar ingin tahu?”
iya! tentu saja!”
“Baiklah. Inisialnya     J .”
J? siapa??”
“Dia seorang perempuan...”
“Aku tahu Bodoh! Tapi maksudku adalah, apakah dia tinggi, pintar, cantik, yang seperti itu!” kataku sambil menjitak kepalanya.
“Dia ceria, suka menolong, namun sedikit bodoh,” apa?? siapa?? Aiissshh aku penasaran sekaliiii!! “Ah, terlalu sulit. Sudahlah sebutkan saja namanya, janji ga bakal bilang siapa-siapa!” kataku sambil membuat huruf V dengan jariku.
“Tidak jadi.” Katanya sambil beranjak meninggalkanku.
“Ya! Ya! Ya! Aisshh, anggaa, nanti kutraktir deh!! Yahh?? Tapi kasih tau dulu!!” kataku sambil menahan lengannya. Ia hanya melirikku, dan aku langsung memansang mata memelas andalanku. Sedetik kemudian ia langsung membisikan nama perempuan itu ditelinga ku
APAAAA???????
Aku hanya mematung. Aku shock setengah mampus. Pasti ini mimpi. aku menabok pipiku.
PLAK!!!
“Aduuuh….” Sakit ya Tuhan!! Ini nyata!!!!!
“Ya! Kenapa kau megira ini mimpi hah?” bentaknya tepat di depan wajahku, membuatku sedikit terjengkang ke belakang padahal aku sedang bersender di tembok. “Surat yang pakai ketikan komputer itu darimu, kan?” katanya lagi. Aku kembali kaget.
“Da.. Darimana kau tahu??”
“Aku mengikutimu bodoh,”
“APAA?? DASAR MR. KEPO KAU!!” teriakku malu sambil memukuli tubuhnya. Ia malah mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Yah, walaupun aku sudah tahu jawabannya, tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu,”
“Jawaban apa?”
“…”
“Yaa!!”
“Kau menyukaiku kan??”
DEG!!