popular entri

Selasa, 07 Mei 2013

LEBIH DARI INI~

nah sesuai janji gua di post sebelumnya, sekarang gua mau ngeshare cerita bikinan gua+ nyeritain mantan gua yang sekaligus cinta pertama gua. aih first love permisaa ._. ini cerita nyeritain cewe yang kurang PEKA sama pacarnya terus minta kesempatan ke dua tapi ga pernah kesampean. :'(  kasian ya gua -_- udah deh mending baca sendiri check this out~




Seperti pada kisah-kisah yang lain, penyesalan selalu datang terlambat. Dan itulah yang kurasakan sekarang. Dulu aku punya seseorang yang mencintaiku dengan seluruh hatinya. Dia selalu memperhatikanku walaupun aku tidak pernah tahu. Dia selalu menyemangatiku walaupun aku merasa tidak membutuhkannya.  Aku tidak tahu apa-apa tentang perasaannya. Namun setelah aku tahu, aku memutuskan untuk tidak peduli. Sampai akhirnya dia datang padaku sambil Memberitahu tentang awal bagaimana ia menyukaiku, memperhatikanku serta bagaimana rasanya tidak diperdulikan seperti ini.
Hatiku bergeming ketika mendengar pengakuannya yang memilukan hati itu. Seharusnya aku membalas perasaannya─atau setidaknya menghargainya. Tapi mau bagai mana lagi. Yang namanya masa lalu tidak dapat diubah dan akan tetap terlukiskan sebagaimana adanya.
Aku merasa sangat sedih ketika melihatnya perlahan menjauhi diriku. Dia adalah salah satu teman baikku yang selalu ada untukku. Namun aku tidak peduli pada perasaannya. Setelah merasakan ketidakhadirannya selama berbulan-bulan, aku merasakan ada sesuatu yang kurang. Seperti ada yang diambil. Lalu kuyakinkan diriku sendiri, Hei, kau tidak jatuh cinta padanya kan?
Jika aku tidak jatuh cinta padanya, mengapa hatiku selalu merasa ngilu saat melihatnya bersama perempuan lain? Setiap hari aku selalu melihatnya menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Mengobrol, makan bersama atau melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anak laki-laki. Perlahan aku merasa mataku menjadi buta. Karena hanya dia yang dapat kulihat dalam penglihatanku. Tak ada yang dapat kulakukan. Aku hanya bisa duduk sendirian di sini memandanginya sambil berdoa. Semoga dia masih bisa memberikanku kesempatan.
Aku ingin memperbaiki segalanya. Aku tahu aku telah menyia-nyiakan orang yang mencintaiku dengan tulus bahkan menyakitinya. Jika ada peringkat orang paling bodoh sedunia, maka akulah yang menempati peringkat pertama. Karena aku dengan bodohnya sudah membuang orang yang begitu mencintaiku dengan tulus.
Ingin rasanya aku melakukan sesuatu. Aku tidak ingin terus menerus duduk di sini dan menyesali semuanya. Akhirnya dengan keberanian yang selama ini kukumpulkan, aku bangkit dan mulai berjalan ke arahnya. Namun tiba-tiba aku berhenti karena sesuatu. Mataku terus berpaut pada dirinya yang sedang bersama perempuan lain. Perlahan kutundukkan kepalaku. Aku tidak mampu melihatnya bersama perempuan lain tepat di depan mataku.
Ketika perempuan itu membuka lebar-lebar kedua tangannya, dia dengan senang hati memberinya sebuah pelukan hangat. Ketika perempuan itu tersenyum, tanpa tanggung-tanggung dia berikan senyuman yang dulu hanya dia berikan untukku. Hatiku terasa sakit melihat pemandangan itu. Aku merasa hatiku ditusuk-tusuk. Aku merasa jiwaku telah mati. Jika dia dapat memberiku kesempatan, aku dapat mencintainya lebih dari ini. Dalam hati aku bertanya-tanya. Sebenarnya dia ini betul-betul melihatku atau hanya berpura-pura untuk mempermainkan perasaanku?
Jika aku berteriak memanggil namanya, akankah dia berpaling dan mulai melihatku? Akankah dia berjalan ke arahku dan mau memulai semuanya dari awal lagi?
Mungkin dia tidak berniat untuk membuka hatinya lagi. Karena aku dapat melihatnya bersama perempuan itu lagi. Sedang memeluknya dengan erat. Seketika badanku lemas. Hatiku terasa perih. Bertambah perih ketika aku menyadari bahwa semuanya terjadi karena perbuatanku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak terjatuh meskipun kakiku telah bergetar hebat. Ketika melihat laki-laki itu telah pergi, aku mengumpulkan segenap kekuatanku. Aku melangkah ke arahnya. Dia membulatkan matanya saat melihatku namun dia tidak pergi. Mungkin dulu aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku tidak punya kata-kata yang seharusnya aku katakan. Namun sekarang aku akan mengatakannya.
Aji…
Aji  hanya terdiam sambil memandangiku.
“Aku minta maaf atas semua yang kulakukan padamu. Aku salah telah membuangmu orang yang telah mencintaiku dengan tulus. Seandainya aku bisa memutar waktu kembali, aku akan memperlakukanmu sebaik mungkin. Karena aku ingin supaya kau tetap tinggal…”
Dia hanya terdiam. Menatap ke arah wajahku, namun pandangannya terlihat kosong. Seperti sedang berusaha menghadang ribuan jarum yang seakan siap menembus jantungnya kapan saja. Matanya menyiratkan guratan kesedihan yang menyakitkan. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Seseorang yang bernama ahmad prasetyo aji  itu tetap terdiam di hadapanku. Membuatku merasa makin bersalah.
Mungkin dia terlanjur sakit hati. Saking sakitnya ia tak mampu berkata apa-apa padaku. Saking sakitnya bahkan ia tak mau menatap ke dalam bola mataku. Rasa penyesalan kian tumbuh membesar di hatiku. Mata yang menyiratkan kesedihan itu pun seakan menularkan rasa sakitnya kepadaku. Aku sedikit terkejut saat  melihat setitik air berada di ujung pelupuk mata aji. Dia membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Rasa sakit kembali menerpa jantungku. Menghantamnya keras-keras dan menghancurkannya dalam sekejap. Perlahan-lahan kuhirup udara. Membiarkannya mengalir ke seluruh tubuhku sebelum akhirnya aku berbicara.
“Mungkin kau tidak bisa memaafkanku secepat ini. Tapi aku benar-benar menyesal atas yang telah terjadi,” ucapku perlahan. “Jika kau tidak memaafkanku, itu tidak apa-apa. Namun aku tetap berharap kau akan memaafkanku suatu hari.”
Akhirnya aku pergi dari hadapan Aji. Meninggalkan laki-laki itu di koridor sekolah  yang sepi ini. Meninggalkan aji demi kebahagiaanya. Meninggalkan aji dengan suatu harapan kecil di hatiku. Semoga aji mau memejamkan matanya sejenak, meresapi semua perkataanku dan mau mengucapkan sepatah kata memaafkan dari mulutnya.
Semoga ia mau mengembalikan waktu seperti yang dulu walaupun aku merasa itu tidak mungkin terjadi. Dan aku ingin selalu mencintainya, bahkan lebih dari ini.